Mochi melanjutkan pelatihannya mengenai pengolahan energi ke Lynx, "energimu berasal dari alam semesta, berbeda dengan energi yang ku olah berasal dari diri sendiri, tapi konsepnya seharusnya sama."

Lynx menyimak dengan seksama, berusaha memahami penjelasan Mochi.

Mochi melanjutkan. "Akar spiritual yang diceritakan Milo, besar kemungkinan terletak di bawah pusar. Kamu bisa coba rasakan energi yang masuk ke tubuhmu, rasakan darimana masuknya. Rasakan kemana arah berkumpulnya. Setelah memahaminya, kamu bisa membayangkan menyerap energi yang masuk lebih banyak, alirkan kesana secara perlahan lebih dahulu, lalu bayangkan energi itu terikat dan terkumpul disana."

Lynx memahami maksud dari Mochi. "Aku pasti bisa, aliran energi ini sudah sering kurasakan masuk ke tubuhku melalui seluruh bagian tubuhku. Sekarang aku harus mencoba merasakan kemana mengalirnya energi ini di tubuhku." Batin Lynx.

Setelah menutup matanya, Lynx segera merasakan adanya sensasi aliran hangat menyentuh kulit tubuhnya di seluruh bagian dan masuk ke dalam pori-pori. Lynx berusaha fokus, dia mencoba mengikuti kemana sebenarnya aliran tenaga yang memasuki tubuhnya berkumpul setelah memasuki tubuhnya.

Sesuai perkataan Mochi, aliran energi tersebut setelah masuk dari seluruh bagian tubuhnya, lalu berkumpul di sebuah titik sedikit dibawah pusar. Lynx bisa merasakan energi tersebut.

Mochi melihat Lynx lebih tenang segera memastikan. "Apakah kamu sudah merasakan kemana aliran energi tubuhmu?"

Mochi melanjutkan instruksinya setelah melihat Lynx menganggukkan kepala."Sekarang kita akan alirkan energi yang berkumpul itu ke bagian tubuhmu yang lain. Ikuti instruksiku."

Lynx mencoba mengikuti instruksi Mochi, namun Lynx merasakan energinya sulit di gerakkan sesuai keinginannya.

"Rileks, jangan di paksa. Biarkan mengalir secara alami." Kata Mochi saat melihat ekpresi wajah Lynx yang berubah.

Lynx mencoba lagi dan lagi. Meski sulit, dia mulai merasakan aliran energi yang lebih stabil di tubuhnya. Mochi membantunya dengan totokan-totokan di beberapa titik untuk memperlancar aliran energi ke seluruh tubuh dan memberikan petunjuk kemana energi di alirkan.

Lala, yang mengamati dari kejauhan, berbisik pada dirinya sendiri, "Dia semakin mahir mengendalikan energinya. Dia benar-benar berusaha keras."

Tanpa terasa beberapa jam telah mereka lewati. Saat Lynx membuka matanya, dia melihat Mochi dan Lala masih duduk meditasi di dekatnya. Lynx merasa terharu dengan sikap mereka yang benar-benar serius membantunya.

"Apa kamu sudah memahami bagaimana cara kerja kekuatanmu?" Tanya Mochi yang sudah menyelesaikan meditasinya.

"Sudah kakek. Energi ini dapat kurasakan datang dari segala arah dan masuk ke seluruh pori-pori tubuhku dan kumpul di titik seperti yang kakek ceritakan." Jawab Lynx secara jujur.

Mochi berpikir sejenak lalu menghela napas."Kekuatan yang luar biasa. Aku tidak bisa membayangkan sekuat apa dirimu nantinya jika bisa menyerap dan menampung lebih banyak kekuatan. Selain itu aku baru mengetahui jika energi bisa masuk dari seluruh tubuh."

"Energi yang bisa kusimpan seperti memiliki wadah, dan aku tidak bisa menyimpannya melebihi kapasitas wadah tersebut. Aku hampir merasakan hal yang sama ketika ku coba memaksa menyerap dan menahan energi tersebut melebihi kapasitasnya." Kata Lynx menceritakan kejadian yang dia alami.

Mochi menganggukkan kepala."Aku yakin kapasitas itu bisa membesar suatu saat nanti. Yang terpenting, kamu harus terus berlatih untuk menggunakannya dengan tepat."

Setelah beristirahat, mereka melanjutkan latihan demi latihan dan selalu di lakukan di setiap kesempatan sambil melakukan perjalanan. Karena mereka harus mengejar waktu, mengingat ancaman besar menuju perkampungan Sinto.

Keesokan harinya, di tengah perjalanan, Lynx, Lala, dan Mochi berhenti di dekat sebuah sungai kecil untuk mengisi ulang kantong air mereka. Tiba-tiba, suara gemerisik dari semak-semak membuat mereka semua siaga.

"Kalian dengar itu?" tanya Lala sambil menggenggam tongkat kayunya.

Mochi mengangkat tangan, memberi isyarat agar mereka diam. Dari arah semak-semak, muncul seekor makhluk mutasi seperti babi hutan, tetapi ukurannya jauh lebih besar, dengan taring panjang dan kulit bersisik.

"Makhluk mutasi," bisik Mochi. "Dia belum menyadari kita. Jangan bergerak."

Namun, Lynx yang berdiri paling dekat dengan makhluk itu tidak bisa menghindar ketika binatang itu tiba-tiba menoleh dan menatap langsung ke arahnya. Makhluk itu menggeram, menunduk, dan bersiap menyerang.

"Lynx, ini kesempatanmu untuk latihan!" seru Mochi.

"Latihan? Baiklah." Lynx memandangnya dan tersenyum," Saatnya mencoba hasil latihanku."

"Alirkan seluruh energimu ke seluruh tubuh untuk meningkatkan kekuatanmu, pertahankan. Kamu harus bertarung tanpa melukainya, berusahalah menghindarinya hanya dengan sedikit gerakan. Cobalah kendalikan energimu saat melawan makhluk itu dan baca gerakannya!" perintah Mochi.

Lynx melakukan apa yang di perintahkan Mochi. Dia merasakan kekuatan tubuhnya meningkat berkali lipat, sangat berbeda dengan kekuatan sebelum latihan.

Makhluk itu berlari ke arah Lynx, dan dengan reflek, Lynx menghindarinya dengan melompat ke samping. Bertarung melawan makhluk mutasi yang memiliki kekuatan besar sangat berbeda dengan melawan makhluk buas biasa. Selama ini, setiap kali Lynx melawan makhluk mutasi, Lynx harus mengeluarkan banyak kekuatannya untuk menghindar dan menyerang.

"Lynx! perhatikan langkahmu!" teriak Mochi.

"Lynx! Fokus pada kontrol!" teriak Mochi lagi.

Mochi berkali-kali mengingatkan Lynx agar mempertahankan aliran kekuatannya, serta memperhatikan gerakan lawannya.

"Aku sedang mencoba!" balas Lynx, frustasi. Dia merasa kesulitan mempertahankan aliran energinya sambil menghindar, dan membaca gerakan lawannya tanpa boleh melawan.

Makhluk buas itu menyerang lagi. Lynx berkali-kali mencoba menghindarinya tanpa membuat jarak yang jauh, namun Lynx terkena serangan dan terlempar.

"Lynx, apa kamu baik-baik saja?" tanya Lala dari kejauhan.

"Aku baik-baik saja, makhluk ini tidak akan bisa melukaiku." Lynx berdiri dan membersihkan debu yang menempel di tubuhnya.

Meski belum bisa melakukan sesuai dengan yang di perintahkan oleh Mochi, tapi Lynx belum menyerah. Dia mencoba lagi memancing agar makhluk itu menyerang dan dia berusaha menghindarinya. Lynx memfokuskan kekuatannya agar dapat menghindar, namun gerakannya masih terlihat kaku di mata Chiko dan Lala.

Setelah berusaha sekian lama dan mulai terbiasa mengontrol gerakannya, Lynx mulai bisa bergerak menghindar dengan akurasi yang lebih baik. Setiap serangan dari makhluk itu, selalu di hindari dengan menggeser sedikit posisinya dan memaksimalkan setiap gerakannya.

Ketika mempermainkan mahluk buas biasa, Lynx dapat mempermainkannya karena jarak kekuatannya yang berbeda jauh, namun kali ini berbeda, Lynx mulai bisa melawan makhluk mutasi menggunakan cara yang sama seperti cara yang dia gunakan saat melawan mahkluk buas biasa.

Kemampuan Lynx kali ini berbeda dengan sebelumnya. Sebelumnya, Lynx selalu kesulitan mengontrol energi, selalu kalah cepat dan kalah kuat setiap kali melawan mahkluk mutasi, sehingga Lynx harus melawan menggunakan kekuatan penuhnya. Ketika pertarungan berlangsung lama, dia merasakan kelelahan karena energinya banyak keluar.

"Kakek, kemampuan Lynx sangat cepat meningkat. Lihat, dia sekarang sudah bisa menghindar dengan lebih tepat." Kata Lala sambil memperhatikan gerakan Lynx.

Mochi tersenyum dan menggelengkan kepalanya."Dia cepat belajar dan memiliki semangat yang tinggi. Tapi masih belum cukup. Kamu lihat, kontrol tenaganya masih sangat buruk." Jawab Mochi.

Kali ini, karena merasa sudah bisa mengontrol kekuatannya, Lynx mulai bisa menghindarinya dengan lebih presisi. Namun, Lynx mulai merasakan energi yang terus menerus dia pertahankan mulai membuatnya kelelahan. Lynx lalu mencoba menghentikan serangan makhluk itu dengan menahannya menggunakan tendangan pelan untuk membuat jarak agar dia bisa menghimpun tenaga lagi.

Namun, tendangan yang keluar terlalu kuat, membuat makhluk itu terpental jauh ke semak-semak, dan Lynx sendiri terhuyung mundur, merasakan energinya berkurang dengan cepat. Setelah makhluk itu melarikan diri, Lynx merasakan energinya sudah berkurang banyak, tubuhnya terasa lelah.

"Padahal aku kira sudah menguasai kekuatan ini. Tapi kenapa saat ingin menendang pelan makhluk itu, aku tidak bisa mengendalikan sesuai keinginanku, kekuatan yang keluar terlalu besar dan aku merasa lelah setelah menggunakan kekuatan ini?" tanya Lynx dengan nada putus asa dan duduk di tanah sambil mengatur napas.

Mochi mendekat dan berjongkok di sampingnya. "Tubuhmu belum terbiasa mengatur aliran energi. Kau masih menggunakan terlalu banyak tenaga untuk setiap gerakan dan seranganmu, bahkan ketika itu tidak diperlukan. Itu sebabnya kau mudah kehabisan energi."

